Membina Rumah Tangga Yang Bahagia

Islam sangat memperhatikan pembentukan keluarga dan mengatur segala sesuatunya, ini semua dimaksudkan untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan.

Islam melihat bahwa keluarga merupakan sebuah lembaga yang ditegakkan dengan persekutuan antara dua orang, dengan laki-laki sebagai penanggung jawab utamanya.


Hal itu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah : “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (para laki-laki) atas sebagian yang lain, yaitu wanita; dan karena mereka (para laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….” (Q.S. An-Nisa’:34).

Ada sejumlah hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh kedua orang yang bersekutu ini, demi tegaknya lembaga yang mereka bina dan langgengnya hubungan di antara keduanya.

Bahkan terkadang masing-masing harus bersikap mengalah bila dirasa kurang terpenuhi apa yang menjadi haknya.

Allah  berfirman dalam ayat yang masyhur : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (Q.S. Ar-Rum: 21)

Karena Allah menyukai langgengnya rasa cinta dan kasih sayang di antara pasangan suami istri, maka Dia mensyariatkan bagi keduanya sejumlah hak dan kewajiban yang mampu menjaga kelangsungan rasa cinta.

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf"(Q.S. Al-Baciarah: 228)

Ayat tersebut singkat, tetapi di dalamnya terkandung muatan yang padat yang bila dijelaskan secara terperinci akan menjadi tulisan yang panjang.

Ayat itu juga merupakan landasan umum yang menegaskan bahwa wanita mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki, kecuali dalam satu hal, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam kelanjutan ayat di atas.

"Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya." (Q.S. Al-Baciarah:228)

Untuk mengenal hak dan kewajiban para wanita (istri), Allah telah mengembalikan kepada apa yang berlaku (diterima) di tengah masyarakat dalam pola hubungan dengan keluarga (para istri) mereka (selama tidak ber-tentangan dengan syari'at).

Sedangkan apa yang berlaku di masyarakat tersebut, mengikuti ketentuan syari'at, keyakinan, prilaku dan tradisi. Ayat diatas memberikan petunjuk bagi suami dalam pola hubungan dengan istri di semua urusan dan keadaan.

Jika hendak menuntut sesuatu dari istri, harus ingat bahwa dia pun punya kewajiban yang sama. Oleh sebab itu, Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya aku berhias untuk istriku, sebagaimana dia berhias untuk diriku.'

Jadi, seorang muslim yang hakiki adalah orang yang sadar akan hak-hak istri yang wajib dia tunaikan. Sebagaimana firman Allah berfirman : "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf". (Q.S.A1-Baqarah: 228)

Juga sabda Nabi : "Ketahuilah sesunggunnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian dan kalianpun mamiki hak atas kalian."

Seorang muslim yang sadar, akan selalu berusaha untuk menunaikan hak istrinya tanpa melihat apakah haknya sendiri sudah terpenuhi atau belum.

Hal itu perlu dilakukan demi kelangsungan rasa cinta dan kasih sayang pada diri dan istrinya dan untuk tidak memberi kesempatan kepada setan menebarkan benih perselisihan, yang tidak jarang berakibat perceraian.

Dalam rangka memberi nasihat, berikut ini kami sampaikan hal-hal yang berkenaan dengan hak-hak istri yang sekaligus menjadi kewajiban bagi para suami.

Sesungguhnya istri mempunyai hak-hak atas suaminya, yang utama sekali adalah hak digauli oleh suaminya dengan cara yang ma'ruf. Sebagaimana dalam firman Allah : "Dan pergaulah mereka secara patut."(Q.S. An-Nisa':19).

Hal ini diwujudkan suami dengan memberi makan istri sebagaimana yang dia makan, memberi pakaian yang layak, dan membimbingnya agar tidak melakukan kedurhakaan kepada Allah. 

Suami juga harus menasehatinya dengan nasehat yang baik tanpa caci-maki, celaan maupun pelecehan. 

Jika seorang istri setelah dinasehati masih belum menurut, maka dipisahkan dari tempat tidur, dan kalau masih juga belum taat, maka boleh dipukul tetapi tidak pada bagian wajah dan dengan pukulan yang tidak mencederai.

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan akan berbuat durhaka, nasehatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mau mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusah kannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. An-Nisa’:34)

Sikap lemah lembut dan keramahan terhadap istri menjadi indikator kesempurnaan akhlak dan kuatnya iman seseorang.

Sebagaimana dalam sabda Nabi : “Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR At-Tirmidzi, hadits no.1162)

Sumber : Fatawa Vol.1 No.01
Gambar : DailyMoslem

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel