Penegakan Tauhid Solusi Permasalahan Umat

Banyak dari kita menyangka kesyirikan hanya terkait dengan penyembahan seseorang secara zhohir (mis: sujud) kepada patung, bebatuan dan pepohonan disamping menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Padahal bentuk kesyirikan itu banyak sekali.


Tatkala seseorang memalingkan perkara ibadah yang merupakan kekhususan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada selain-Nya maka ia telah melakukan kesyirikan entah itu besar maupun kecil -pahamilah definisi ibadah & tauhid sehingga semakin jelas kesyirikan itu.

Banyak akibat yang sangat buruk yang akan menimpa seorang musynk di dunia dan akhirat bilamana ia tidak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelum kematiannya.

Bagaimana tidak, ia telah melakukan perbuatan zholim (aniaya) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menciptakannya. Dan inilah perbuatan zholim terbesar yang dllakukan manusia.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud rodhiyallohu anhu, la berkata:

Aku bertanya pada Rosulullah tentang dosa apakah yang paling besar?", maka beliau menjawab, "Engkau menjadikan sekutu bagi Allah (melakukan kesyirikan) padahal Dia-lah yang menciptakanmu,..." (HR. Al Bukhori dan Muslim).

Manusia saja yang berbuat zholim terhadap manusia yang lain walaupun kecil, dianggap keterlaluan dan terkadang sampai mendapatkan hukuman besar secara langsung.

Maka, lebih dianggap sangat keterlaluan lagi dan pantas diazab dengan siksaan yang keras bagi seseorang yang berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Parahnya syirik zaman sekarang 

Sudah menjadi keharusan bagi kita sesama muslim untuk saling dan selalu mengingatkan akan bahaya kesyirikan. Merajalelanya kebodohan, sedikitnya para 'ulama yang menjelaskan, dan kurangnya semangat di dalam mempelajari agama ini menjadikan kita tidak mengenal dengan baik apa itu kesyirikan.

Jangankan untuk menjawab pertanyaan, apa saja bentuk kesyirikan secara terperinci bahkan apa definisinya yang benar, sebagian dari kita mungkin tidak mengetahuinya.

Ketahuilah semoga Allah merahmati kita semua, kesyirikan tidak hanya terjadi di zaman dulu saja, tidak hanya pada periode kenabian Rasul saja namun hingga di masa sekarang kesyirikan masih tetap ada dan bahkan bertambah hebat.

Berkata Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullahu:

"Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita lebih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka hanya berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang." (Lihat Qowaidul Arba').

Adapun sekarang tidak hanya dalam keadaan susah akan tetapi dalam keadaan lapang sekalipun, sebagian dari kita terjatuh dalam kesyirikan bahkan bersenang—senang di dalamnya, na'udzu billahi min dzalik.

Tengoklah keadaan di sekitar kita, maka kita akan dapatkan beberapa bentuk kesyirikan yang telah menjamur bahkan dijadikan sebagai tontonan hiburan yang lumrah di tengah masyarakat (misal: sihir, percaya dan mendatangi dukun, mempercayai ramalan bintang dan sejenisnya).

Akankah kita menjadikan perkara syirik itu boleh hanya karena telah menjamurdi kalangan masyrakat?

Ketahuilah, kebaikan itu tidak diukur dengan banyaknya orang yang mengikuti dan keindahan sifatnya di mata manusia. Hanya saja kebaikan itu diukur dengan Al-Qur'an dan Hadits.

Meskipun banyak yang melakukan suatu perbuatan, mengatakan suatu pernyataan dan meyakini suatu keyakinan, akan tetapi jika itu salah makadihukumi salah.

Dakwah tauhld, solusi problematika umat

Bilamana dikatakan, "Perbaikilah keadaan umat ini dengan mengajak mereka kepada tauhid dan mengingatkan akan bahaya kesyirikan", tentu slogan-slogan penghinaan dan ejekan akan bermunculan.

Entah dikatakan dakwah yang kolot, kuno, tidak sesuai dengan zamannya lagi, bukan kebutuhan umat hingga gelaran yang buruk. Padahal itulah kebutuhan umat yang mendasar, itulah solusi langsung pada akar permasalahan umat ini.

Kemunduran dan keterbelakangan umat ini terjadi seiring dengan jauhnya mereka dari tauhid dan dekatnya mereka kepada kesyirikan.

Berkata imam Malik rahimahullahu: Tidak ada sesuatu yang bisa membuat baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat terdahulu.

Dan telah nyata bagi kita, bagaimana Rosulullah di dalam perbaikan umat (baca: generasi para sahabat) menghabiskan 13 tahun awal dari 23 tahun masa kenabiannya mengkhususkan pembinaan para sahabat rodhiyallohu 'anhu di atas keimanan (aqidah) yang benar.

Mereka diajarkan dengan baik bagaimana bermu'amalah dengan Robb mereka dalam seluruh aktivitas. Padahal ketika itu keempat rukun islam yang lain belum diwajibkan, begitu pula kebanyakan kewajiban yang lain.

Telah dipahami dengan baik, penguatan pondasi amal yakni dengan menguatkan keimanan kepada Allah akan menjadikan penerimaan terhadap berbagai syariat lebih mudah & ringan.

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi siapa saja yang menginginkan kembalinya kejayaan umat ini melainkan dengan kembali pada agama ini dengan melakukan tashfiyyah (pembersihan diri dari kesyirikan dan bid'ah) dan tarbiyyah (pendidikan syariat yang benar).

Tatkala tauhid telah menghujam dalam hati manusia secara sempurna dan benih-benih kesyirikan dan washilah (perantaranya) dihilangkan, maka akan lahir generasi Islam yang maju dan kuat.

Mereka siap menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Tatala dan menjauhi semua larangan-Nya secara kaffah (menyeluruh) sehingga pertolongan dan rahmat Allah Subhanahu wa Tatala akan selalu menyertai mereka.

Sumber : Buletin Al Ilmu 06/1 2008



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel