Pentingnya Tawakkal Kepada Allah Azza wa Jalla

Setiap kita menginginkan kebaikan dalam hidup ini. Siapa saja akan berusaha mendapatkannya dan tetap di dalamnya dengan berbagai usaha. Mau tidak mau, ada kalanya kita berhasil dengan usaha tersebut, namun ada kalanya kita menemui kegagalan di depan.

Apabila berhasil, tentu kita bahagia dan bagi orang yang dirahmati Allah, dia akan bersyukur kepada-Nya. Apabila gagal, kebanyakan dari kita bersedih hati bahkan sampai kepada taraf putus asa.

Hanya orang yang dirahmati Allah yang akan bersabar atas apa yang didapatkannya berupa kejelekan. Hanya orang yang bertawakkal yang tetap bahagia, tenang dan optimis dengan apa pun yang akan didapatkannya.


Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang benar, niscaya Dia akan memberikan kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada seekor burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)

Definisi tawakkal 

Secara bahasa diambil dari kata wikaalah yang artinya perwakilan. Seseorang yang ber-tawakkal artinya dia menyerahkan urusannya kepada yang lain dan bersandar kepadanya, (Fathul Majid li Syarh Kitab At Tauhid hal. 399, Mukhtashor Minhajul Qosidiin hal. 240).

Tawakkal secara syar'i adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah Azza wa Jalla dengan penuh keyakinan kepada-Nya.

Tawakkal termasuk ibadah

Tawakkal termasuk ibadah yang hanya diperuntukkan bagi Allah. Allah berfirman (yang artinya), "Dan hanya kepada Allah lah kalian bertawakkal, jika kalian beriman (kepada-Nya)." (QS. Al Ma'idah [5]: 23).

Lafazh tawakkal dalam ayat ini disebutkan dalam konteks perintah. Ini menunjukkan bahwa tawakkal adalah ibadah. Berkata Imam Ahmad rahimahullahu, "Tawakkal adalah amalan hati".

Benarnya tawakkal seorang hamba apabila memenuhi dua syarat :
1. Hati harus bersandar kepada Allah, dan
2. Mengambil sebab yang diijinkan oleh syariat, (Mutiara Faedah Kita tauhid hal. 183).

Seseorang yang ingin bertauhid dengan benar dalam perkara tawakkal hendaknya memperhatikan dua syarat ini.

Tempuhlah sebab yang benar sesuai Sunnatullah yang berlaku di muka bumi ini, sebab selalu mendahului akibat. Oleh karena itu, mengambil sebab didahulukan sebelum mencapai sesuatu.

Sebab yang akan diambil harus terbukti secara syar'i (ditunjukkan oleh dalil) dan atau qodari (terbukti secara penelitian maupun pengalaman). Misalkan, seseorang yang ingin berobat, maka dalam menempuh sebab dia bisa menggunakan pengabatan nabi seperti bekam dan makan habbatu sauda' (ada dalilnya) atau bisa juga ke dokter dan minum obat farmasi (terbukti secara penelitian).

Jika sebab tersebut telah ditempuh maka sandarkanlah hatimu akan kesembuhanmu, hanya kepada pembuat sebab yang utama yaitu Allah Azza wa Jalla, bukan kepada obat, dan bukan pula kepada dokter. Dengan demikian, kita telah menempuh tawakkal yang benar.

Tawakkal buah iman 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya), "Dan hanya kepada Allah lah kalian bertawakkal, jika kalian beriman (kepada-Nya)." (Q.S.A1 Ma'idah [5): 23).

Ibnul Qoyyim rohimahullahu berkata, "Allah menjadikan tawakkal kepada-Nya sebagai syarat iman". Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman akan dimiliki ketika seseorang menyempurnakan rasa tawakkalnya.

Dan dalam ayat yang lain, yakni (yang artinya),

"Dan Nabi Musa alaihissalaam berkata, 'Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah maka bertawakkallah kalian hanya kepada-Nya jika kalian orang muslim (yang berserah diri)'." (QS. Yunus [10]: 84).

Dia menjadikan tawakkal sebagai dalil benarnya keislaman seseorang. Maka tatkala keimanan seorang hamba kuat maka rasa tawakkalnya pun bertambah kuat. Dan jika keimanannya lemah, maka tawakkalnya pun lemah.

Oleh karena itu, jika tawakkal seseorang lemah mengindikasikan imannya juga lemah. Begitu pula sebaliknya. Dan (dalam ayat yang lain) Allah telah menggabungkan (penyebutan) tawakkal dan ibadah, tawakkal dan iman, tawakkal dan takwa, tawakkal dan islam, tawakkal dan hidayah.' (Fathul Majid li Syarh KitabAtTauhid hal. 399)

Keutamaan tawakkal 

Allah berfirman (yang artinya), "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Tholaq (651: 3).

Berkata sebagian salaf (para ulama' terdahulu), "Allah menjadikan balasan bagi setiap amal sesuai dengan jenisnya". Dan dalam ayat ini, Allah menjadikan balasan bagi orang yang bertawakkal kepada-Nya berupa kecukupan dari-Nya.

Dan tidak disebutkan, bagi kalian pahala sekian dan sekian sebagaimana disebutkan untuk amalan yang lain. Bahkan Dia menjadikan Dzat-Nya yang suci sebagai pemberi kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya dan menjaganya.

Maka sekiranya, seorang hamba bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka niscaya langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya akan mencurahkan diri baginya. Mengingat Allah telah memberikan jalan keluar, memudahkan urusan, memberikan rizki, dan menolongnya. (Fathul Majid li Syarh Kitab at Tauhid, hal. 403).

Dan dalam hadits yang mulia, Rosulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang sifat kaum muslimin yang akan masuk surga tanpa hisab

"Mereka tidak meminta ruqyah, mereka tidak meminta kai (pengobatan dengan bara api), mereka tidak tathoyyur (merasa sial dengan sesuatu), dan hanya kepada Robb mereka, mereka bertawakkal..." (HR. Al Bukhori dan Muslim).

Sumber : Buletin Al 'Ilmu 07-I
Gambar : Bening Media

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel