Suami Mengaku Belum Beristri, Jatuh Talak atau Tidak?

Seseorang yang sudah beristri dan masih berstatus suami istri ditanya seseorang apakah sudah beristri atau belum. Pria tersebut menjawab belum beristri. Apakah ucapannya tersebut otomatis berlaku talak bagi istrinya?

Pernyataan seorang suami kepada istrinya, misalnya, ’Engkau cantik seperti ibuku!’ termasuk juga perkataan yang bisa menyebabkan terjadinya jatuh talak secara otomatis?

Terima kasih atas jawabannya.

Ikhwan Bumi Allåh



Jawaban: 

Wassalamu’alaikum waråhmatull låh wabaråkatuh. Shalawatullah wa salamuhu ’ala nabiyinal mushthafa muhammadin wa ’ala alihi wa ashhabihi ajma’in.

Karena pertanyaan ini lebih kepada hukum talak, maka kami akan menjawab sesuai inti permasalahan. Di luar masalah hukum boleh tidaknya berbohong mengaku belum kawin lantaran sedang mengejar wanita untuk dinikahi.

Untuk masalah ini ada bab khusus yang membahasnya.

1. Sebuah talak bisa jatuh bila dilakukan dengan main-main atau dengan serius. Namun hal itu khusus untuk talak dengan lafal yang sharih atau yang jelas menyebutkan kata talak. Lafal sharih adalah lafal yang jelas dan secara eksplisit menyebutkan kata talak atau cerai.

Imam al-Syafi`i membatasi lafal ini hanya pada yang disebutkan dalam al-Quran yaitu talak, firåq dan saraah. Lafal inilah yang bila diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya, akan menjatuhkan talak.

Bahkan meski diucapkan dengan main-main. Jadi bila suami berkata, ”Kamu saya talak”, maka jatuhlah talak satu kepada istrinya meski saat itu dia hanya main-main saja.

Råsulullåh bersabda,

“Tiga hal yang main-main dan seriusnya dianggap serius yakni nikah, talak, dan rujuk”. (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Daruqut thuni)

Sedangkan ucapan ‘bohong’ bahwa dia tidak punya istri sama sekali bukan lafal yang sharih yang menyebabkan jatuhnya sebuah talak. Kalaupun mau dianggap bermakna talak, maka lafal itu adalah lafal kinayah.

Lafal kinayah adalah lafal yang bersifat implisit dan bisa ditafsirkan menjadi banyak makna. Seperti seorang suami berkata kepada istrinya, “Pulanglah kamu ke rum mah orang tuamu.” Lafal ini bisa bermakna memutuskan hubungan suami istri atau talak, namun di sisi lain bisa juga bermakna yang sesungguhnya, yaitu suami minta agar istrinya berziarah ke rumah orang tuanya.

Contoh lainnya adalah bila suami berkata, “Kamu haram bagi saya.” Lafal ini bisa bermakna haram dalam hubungan suami istri yang berarti cerai dan bisa pula berarti haram untuk melakukan kemaksiatan.

Lafal kinayah ini tidak menjatuhkan talak kecuali bila dengan niat dari pihak suami. Jadi tergantung pada niatnya saat mengucapkalafal kinayah itu. Ketika teman Anda ‘berbohong’ mengatakan tidak punya istri, dalam hatinya tentu tidak berniat menceraikan istrinya di kampung halaman.

2. Sebenarnya dari sisi syariat, memanggil istri dengan ungkapan yang seolah-olah si istri menjadi ibu buat suami tidaklah sampai termasuk dalam kategori zhihar. Karena di dalam kasus zhihar ada syarat niat untuk mengharamkan diri dalam menggauli istri seperti keharaman menggauli ibu sendiri.

Yaitu dengan lafal zhihar yang umumnya menggunakan lafal, ”Kamu bagiku seperti punggung ibuku”. Jadi lafal itu sendiri pun harus tegas memiliki makna pengharaman atas mempergauli istri.

Dan yang terpenting adalah niat atau azzam ketika mengucapkannya. Perkara ini tidak bisa disamakan dengan lafal sharih, talak bisa saja berstatus talak meski hanya diucapkan main-main.

Karena sebenarnya dalam kasus talak sekalipun, harus ada lafal sharih atau eksplisit, bukan lafal yang bersifat kinayah atau implisit.

Sebenarnya zhihar ini diambil dari kebiasaan orang Arab pra Islam yang biasa menyatakan “Anti ka zhåhri ummii” artinya engkau laksan na ibuku, sebagai ungkapan untuk menyatakan keharaman menggauli istrinya.

Dengan pernyataan suami yang demikian, maka kedudukan istri menjadi menggantung, tidak dianggap sebagai istri dan tidak juga diceraikan. Dalam al-Quran Allah berfirman

”Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibuibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungg guh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.“ (Al-Muj jadalah:2)

Dengan turunnnya ayat di atas, maka hukum zhihar dalam Islam diharamkan dan suami yang melakukannya dianggap melakukan suatu dosa yang besar. Dan tidak dianggap sebagai talak atau percer raian. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, XXIX/191)

Salah satu syarat seseorang dapat dikategorikan melakukan zhihar terhadap istrinya adalah adanya makna pengharaman (diniatkan demikian). Yang dimaksud di sini adalah suami mengharamkan istrinnya sendiri untuk dirinya sehingga ia tidak boleh lagi melakukan hubungan layaknya suami istri.

Karena dalam zhihar biasanya istri tersebut dianggap atau diserupakan dengan ibu sang suami yang melakukannya dalam hal diharamkannya melakukan hubungan layaknya suami istri.

Semoga bermanfaat.

Wallåhu a’lamu bishshåwab


Fatawa Vol.III/No.12 | Dzulhijjah 1428

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel