Teteskan Air Mata Surga

Isak tangis para sahabat yang tengah duduk mengelilingi Råsulullåh mengherankan seorang pemuda yang ikut duduk di majelis tersebut. Mereka semua menangis terisak, bahkan Råsulullåh sendiri menyampaikan nasehatnya dengan suara parau.

Sedang si pemuda, tak setetes pun air mata keluar dari kelopak matanya. Ia menanyakan kejanggalan dirinya kepada Råsulullåh. Beliau kemudian menyebutkan penyebabnya yaitu kerasnya hati.

Diuraikan juga berbagai penyebab yang saling bertaut hingga mengeraskan hatinya. Semuanya bercabang dari cinta dunia dan takut mati.



MAKNA TETESAN AIR MATA 

Sesungguhnya, Allah tidak pernah keliru menciptakan sesuatu. Dari tetesan air mata saja terkandung berjuta makna yang menyiratkan kasih sayang dan kemahaluasan ilmu Allah. Setidaknya ada dua fungsi penting air mata bagi manusia.

Pertama, melindungi dan menjaga kesehatan mata. Apa jadinya kalau mata tidak mengeluarkan air?

Pasti tersiksa. Gerak mata akan macet sehingga tak mampu mengedip. Akibatnya, benda-benda dari luar akan berlomba memas suki mata, dari udara, radiasi cahaya, debu, bakteri, virus, dan sebagainya.  Mata akan terasa perih, panas, dan sakit.

Kedua, sebagai alat komunikasi serta pengekspresian emosi. Ketika seorang manusia lahir, hingga beberapa masa tertentu, air mata yang mengiringi tangisan menjadi alat komunikasi utama. Air mata sangat ampuh untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dengan air matalah seorang anak bisa “memaksa” sang ibu untuk memberikan air susu serta aneka perhatian. Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan air mata mengkomunikasikan sejumput pesan dengan makna-makna tertentu.

Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut, atau sakit. Sehingga nilai air mata begitu istimewa, khusus, serta berkesan. Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati?

Karena itu tidak heran jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras, menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang.

Sesungguhnya, air mata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan penciptanya sekaligus sesembahannya. Betapa tidak, tetesan air mata karena Allåh menjadikan pemilik mata terjauh dari neraka.

Råsulullåh bersabda :

"Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allåh hingga air susu (yang sudah keluar) kembali ke tempat asalnya."

"Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allåh pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah .... dan seorang yang berdzikir kepada Allåh di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya bercucuran air mata."

Berdasar berita dalam hadits kedua tersebut air mata bisa mendatangkan pertolongan Allåh di akhirat kelak. Salah satunya adalah orang yang menangis saat tengah berkhalwat dengan Allåh.

Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allåh. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi.

AIR MATA KEIMANAN 

Itulah sebabnya, Råsulullåh dan para sahabat menjadikan air mata sebagai “bahasa sehari-hari” saat berinteraksi dengan Allåh. Perjalanan hidupnya tidak sepi dari isak tangis. Menangis bukan karena tak punya harta, kehilangan harta, atau sesuatu yang terkait dengan urusan dunia.

Mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Rabbnya. Cinta yang bersumber dari kuatnya råja' (harapan akan, ampunan, kasih sayang, dan ridhå dari Allåh) yang terpadu dengan khåuf (rasa takut akan murka-Nya).

"Apabila dibacakan ayat-ayat Allåh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (Maryam: 58)

Ibnu Sa'di berkata berkenaan dengan ayat di atas, ”Maksudnya adalah mereka berlaku khudhu' dan khusyu' terhadap ayat-ayat terseb but, sehingga menggoreskan iman, cinta/harap dan takut di dalam hati mereka.

Hal itulah yang melahirkan tangisan pada mereka, munculnya sikap berserah diri, dan sujud kepada Rabb mereka. Mereka bukanlah orang yang bila mendengar ayat-ayat Allåh menyungkur dalam keadaan sebagaimana orang yang tuli dan buta [mata hatinya]."

Dilihat dari perspektif ini, tak heran air mata dijadikan salah satu barometer untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat al-Quran yang mengungkapkan keutamaan menangis.

”Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allåh). Sesungg guhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, * dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". * Dan mereka men nyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Al-Isrå:107-109)

TETESKAN AIR MATA SURGA 

Kenapa air mata surga? Ya karena inilah air mata istimewa. Sebagaimana ditunjukkan oleh dua hadits di muka pemilik air mata ini adalah orang yang akan dijauhkan sejauhjauhnya dari neraka di samping akan mendapatkan naungan di saat tidak ada naungan selain naunganNya, semata.

Inilah tetesan air mata penghuni surga, tetesan air mata yang akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga. Råsulullåh bersabda,

"Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allåh. Dan mata yang begadang berjaga dalam jihad fisabilillah"

Alangkah baiknya seseorang yang tangisannya dialamatkan untuk kecintaan kepada Allåh. Dengannya Allåh akan menyediakan satu pelindung baginya dari adzab akhirat. Menangisnya ditujukan kepada rahman dan rahim Allåh.

Ia menangis karena takwa dan takut melakukan sesuatu yang dimurkai-Nya. Sebuah tangisan yang akan membawanya ke dalam taman surga. Untuk mengarahkan tangisan kepada yang diridhai Allåh dapat ditempuh beberapa cara, di antaranya:

Pertama, memperbanyak baca al-Quran dengan memahami makn nanya, terutama ayat-ayat yang kita baca di dalam shalat, kemudian berusaha untuk merenungi dan meresapi maknanya ke dalam hati.

Pilih waktu, suasana, dan tempat yang tepat, seperti tengah malam, ketika shalat tahajjud dan sebagain nya. Jika hal ini mulai dibiasakan, akan ada pengaruh yang berarti dalam kehidupan kita, insyaallåh.

Kita pun akan mudah tersentuh dan menangis ketika membaca al-Quran, sedang shalat, atau tengah berdoa. Abdullåh bin Syukhåir (bapak dari Muthårrif) berkata,

"Aku melihat Råsulullåh e yang sedang shalat, sementara dari rongga dadanya ada suara gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (diseb babkan) karena tangisan beliau."

Kedua, mengenali nama-nama Allåh yang Mahatinggi dan sifatsifat-Nya yang agung sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah.

Berusaha merenungi kebesaran, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan Allåh melalui keindahan dan keunikan ciptaanNya, disertai dengan introspeksi atas kelemahan diri kita sebagai hambaNya.

Ketiga, menghadiri majelismajelis ilmu, mendengarkan naseh hat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin, sehingga membuat kita menangis.

Shålat berjamaah di belakang imam yang mudah menan ngis ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, simaklah kaset-kaset ceramah yang berisi nasehat-nasehat terutama mengenai tazkiyatun nafs, bacaan-bacaan murattal yang isinya penuh dengan kekhusyukan dan tangisan. Suasana seperti itu bisa menyentuh dan mempengaruhi jiwa.

Keempat, mengingat kematian. Bagaimana kita akan meregang nyawa mengadapi sakaratul maut. Ingatlah ajal adalah semakin dekat ke ambang pintu kematian.

Perhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakaratul maut, baik yang tampak padanya tanda-tanda husnul khatimah ataupun su-ul khatimah. Renungkan kejadian itu secara mendalam.

Kemudian kita bayangkan jika kejadian yang mengerikan itu menimpa diri kita sendiri, dengan tubuh yang semakin lemah, semakin dingin dan semakin tidak berdaya menghadapi kematian, dengan nafas yang tersengal-sengal meregang nyawa yang mau keluar.

Tubuh kita menggigil menahan sakitnya sakaratul maut, lalu malaikat maut menarik nyawa dari tubuh kita yang sudah kaku tak bergerak. Han nya diri kita sendiri yang merasakan sakitnya sakaratul maut.

Kelima, mengingat dan membay yangkan kedahsyatan hari kiamat. Pada hari itu terdengar tiupan pert tama terompet malaikat Israfil yang sangat dahsyat, sehingga menggeleg garkan alam jagat raya ini dan selur ruh isinya. Semua makhluk dicekam ketakutan.

Semua manusia dalam kebingungan, panik, dan sangat takut. Mereka semua seperti orang yang sedang mabuk. Semua lari tapi entah ke mana tujuannya. Pada hari itu seorang ibu yang sedang menyus sui anaknya tidak peduli lagi dengan anak yang sedang dia susui.

Seorang bapak tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong anak dan istrinya. Semua hanya mengurusi diri sendiri, tanpa ada yang bisa diperb buat. Semuanya dicekam ketakutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Keenam, mengingat murka Allåh kepada umat-umat terdahulu, seperti umat nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan hujan batu, lalu bumi mereka dibalikkan oleh Allåh karena mereka bergelimang dengan dosa homoseksual. Banyak umat terdahulu yang dihancurkan Allåh ta´ala karena kedurhakaan mereka kepada-Nya.

Ketujuh, memperbanyak doa agar Allåh ta´ala menganugerahkan karunia-Nya kepada kita agar bisa menangis karena-Nya.

Hendaklah kita selalu bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdoa agar kita dijauhkan dari hati yang tidak khusyu´ dan mata yang tidak bisa menangis, dari perbuatan tercela, termasuk korupsi, memfitnah, mem makan harta yang bukan miliknya, riba, tipu daya, dan makan harta anak yatim dan seterusnya.

Kedelapan, jangan meremehkan dosa. Sekecil apa pun doa akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allåh. Ibnu Mas´ud berkata,

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia berada di bawah sebuah gunung dan khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya. Sedangkan seorang fasik melihat dosa-dosanya bagaikan melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya."

Semoga Allåh menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa menan ngis karena takut pada-Nya, mampu meneteskan air mata surga. Teteskan air mata surga dari sekarang juga! Wallåhulmusta’an

Fatawa Vol III/No.12 | Dzulhijjah 1428

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel